Jones Manurung: Agenda Transformasi Pendidikan Harus Menyentuh Anak Putus Sekolah
02 Mei 2021 - 14:44:07 WIB | Dibaca: 3943x
Jakarta (SIOGE) - Dewan Pimpinan Pusat Serikat Rakyat Indonesia (DPP SERINDO) mengapresiasi agenda Transformasi di dunia Pendidikan yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim. Transformasi Pendidikan yang digaungkan bersandar pada sejarah bangsa dan keberanian menciptakan sejarah baru yang gemilang. Pedoman atau sandaran ini yang di apreasiasi secara khusus oleh Dewan Pimpinan Pusat. Hal itu mengartikan bahwa Pendidikan didasarkan pada akar sejarah dan budaya bangsa Indonesia yang termanifestasikan pada Pancasila sebagai falsafah yang harus di pegang teguh setia pinsan pembelajar di seluruh Indonesia.
Ketua Umum DPP SERINDO, Jones Batara Manurung melalui via whatsapp kepada Sioge, Minggu (2/5/2021) mengatakan, Transformasi pendidikan yang dilakukan oleh Kementerian melalui terobosan Merdeka Belajar juga sesuatu yang pantas di apresiasi di tengah kondisi pandemi Covid-19.
“Upaya perbaikan yang tengah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi di titikberatkan pada 4 (empat) hal yakni pertama, perbaikan infrastruktur dan teknologi. Kedua, perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan. Ketiga, perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya. Keempat, perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen. Kami mengharapkan agenda terobosan Merdeka Belajar dan upaya perbaikan terhadap 4 (empat) hal tersebut dapat terlaksana,” kata dia
Secara khusus DPP SERINDO, kata dia memberi perhatian dan mengingatkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi pada realita sempirik yang tengah terjadi agar agenda transformasi Pendidikan yang digaungkan dan tengah dilaksanakan tidak sekedar jargon belaka. Salah satu keprihatinan kami saat ini pada dunia Pendidikan yakni terkait tingginya angka Anak Putus Sekolah. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan pada tahun ajaran 2019/2020 bahwa terdapat 157 ribu siswa putus sekolah (jenjang SD hingga SMA).
“Sementara UNICEF pada tahun 2020 melansir data angka putus sekolah sebanyak 13.500 anak sebelum pandemi. Angka tersebut menambah daftar Panjang jumlah Anak TidakSekolah (ATS) di Indonesia yang berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2019 berjumlah 4,34 juta jiwa. Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam temuan data-data lapangan menyebutkan bahwa jumlah anak putus sekolah cukup tinggi selama pandemi Covid-19,” lanjut Jones
Berdasarkan data-data tersebut, DPP SERINDO meminta Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim segera memberikan tindakan konkret dan signifikan. Transformasi Pendidikan yang digaungkan harus menyentuh langsung permasalahan tingginya Anak Tidak Sekolah tersebut. Setidaknya terdapat beberapa alasan yang menyebabkan anak putus sekolah yakni karena menikah, bekerja, menunggak SPP dan meninggal dunia.
“Untuk itu Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi segera bergerak cepat menyelesaikan permasalahan tersebut. Hal ini sangat penting dan mendesak agar agenda Transformasi Pendidikan yang telah disusun dan tengah dilaksanakan tidak berada pada ruang kosong dan dianggap gagal oleh publik.” tandasnya. (Rasi)




.jpeg)

















