Libatkan Empat Kabupaten dan Satu Kota, Kemenpar Sebut Sail Nias Momentum Revitalisasi Pariwisata
30 Agustus 2019 - 00:39:12 WIB | Dibaca: 2798x
Nias (SIOGE) - Kementerian Pariwisata menyebut perhelatan Sail Nias 2019 merupakan momentum revitalisasi pariwisata di Nias karena wilayah tersebut telah cukup dikenal dunia pada era 80an hingga 90an.
“Sail Nias ini jadi momentum revitalisasi atau bangkitnya kembali pariwisata di Nias,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani di Jakarta, Kamis (29/8).
Menurut Rizki, Nias sebenarnya sudah cukup dikenal akan wisata bahari dan budayanya pada era 1980-1990an. Nias juga telah dikenal sebagai surga selancar dunia, bahkan diklaim memiliki titik selancar terbaik kedua dunia setelah Hawaii.
Perhelatan Sail Nias yang akan mencapai puncaknya pada 14 September mendatang diharaokan dapat meningkatkan kembali popularitas Nias sebagai destinasi wisata bahari dunia.
Rizki menambahkan, pemerintah juga ingin mendorong agar Nias bisa dikunjungi oleh kapal pesiar (cruise) dan kapal layar (yacht) dengan digelarnya Sail Nias itu.
Menurut dia, kegiatan rally yacht dalam rangkaian Sail Nias 2019 yang telah diselenggarakan pada Mei lalu mendapat sambutan positif sehingga diharapkan bisa mempromosikan Nias sebagai destinasi wisata kapal layar.
“Kegiatan kaoal layar sudah kita lakukan Mei lalu karena kondisi angin. Ternyata kami melihat yachter ini tertarik karena cukup banyak yang datang walaupun ‘short notice’ (pemberitahuan singkat). Makanya kami ingin lihat apakah Nias ini bisa dikembangkan jadi jalur wisata sail,” katanya.
Puncak acara Sail Nias akan digelar di Teluk Dalam, Nias Selatan, pada 14 September 2019 mendatang. Meski tidak secara gamblang menyebut target jumlah wisatawan yang akan datang, Rizki menekankan pentingnya dampak penyelenggaraan yang akan mendorong kunjungan secara berkelanjutan.
“Pak Menteri (Arief Yahya) selalu menyampaikan bahwa event festival itu yang paling penting adalah ‘news value’, bukan kehadiran pada saat itu. Kami berharap Pak Presiden bisa hadir karena kehadiran Presiden di sebuah destinasi itu menunjukkan aman dan siap. Presiden jadi ‘endorser’ wisata itu,” katanya.
Libatkan Empat Kabupaten
Penyelenggaraan Sail Nias 2019 diklaim berbeda dengan kegiatan sail serupa yang telah digelar sebelumnya karena melibatkan seluruh wilayah, yakni empat kabupaten dan satu kota di Pulau Nias.
"Yang membedakan Sail Nias dengan sail lainnya adalah karena Sail Nias ini melibatkan empat kabupaten dan satu kota. Sail lain titik kegiatannya tidak menyebar," kata Perwakilan Panitia Pelaksana Sail Nias 2019 Taufik Madjid dalam diskusi Explore Sail Nias 2019 di Jakarta, Kamis.
Taufik yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) itu menjelaskan Sail Nias 2019 merupakan acara layar ke 11 yang digelar pemerintah Indonesia sejak 2009 silam.
Meski telah dikenal dunia sebagai titik selancar nomor dua setelah Hawaii, Taufik berharap Nias akan lebih banyak dikenal dan dikunjungi wisatawan setelah perhelatan tersebut.
"Harapan kami tidak hanya acara puncaknya yang meriah, tapi setelah penyelenggaraan Nias akan lebih banyak dikunjungi orang," imbuhnya.
Selain acara puncak pada 14 September 2019, rangkaian kegiatan Sail Nias telah dimulai Mei lalu dengan "yacht rally". Selain itu, akan ada festival lompat batu sekepulauan Nias, parade kapal nelayan tradisional, gebyar kopi, hingga lomba voli pantai.
Asisten Deputi Seni Budaya dan Olahraga Bahari Kemenko Maritim Kosmas Harefa mengatakan awalnya kegiatan sail digelar khususnya untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah tertinggal selain mempromosikan potensi wisata bahari.
"Lalu, mulai Sail Sabang (2017), tujuannya berubah untuk mengangkat wisata bahari," katanya.
Rangkaian Sail Indonesia pertama kali yang menggunakan nama tujuan akhir adalah Sail Bunaken pada tahun 2009, diikuti Sail Banda (2010), Sail Wakatobi-Belitong (2011), Sail Morotai (2012), Sail Komodo (2013), Sail Rajampat (2014), Sail Tomini (2015), Sail Selat Karimata (2016), dan Sail Sabang (2017), Sail Moyo Tambora (2018) dan Sail Nias (2019).
"Bedanya Sail Nias ini karena disandingkan dengan kejuaraan 'surfing', bukan 'yachter' seperti sail lainnya. Dengan kegiatan ini kami harap Nias akan bangkit wisatanya," pungkas Kosmas.(ant)






















