Pemkab Dairi Bentuk Tim Penanggulangan Penyakit Ternak Babi
21 Oktober 2019 - 10:02:24 WIB | Dibaca: 2932x
Sidikalang (SIOGE) -Bupati Dairi Eddy Keleng Ate Berutu membentuk tim gabungan lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk pencegahan dan penanggulangan wabah penyakit ternak babi.Tim tersebut diantaranya, Dinas Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, PUPR, Satpol PP, BPBD serta camat se-Dairi.
Hal tersebut disampaikan Koordinator tim yang juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Posma Tua Manurung di Sidikalang dalam konfrensi pers, Jumat (18/10). Hadir dalam pertemuan Kepala Dinas Pertanian, Herlina Tobing, Plt Kabag Humas, Palti Pandiangan.
Dijelaskan, penyakit ternak babi telah menyerang 13 Kecamatan. Hasil analisis, kematian ternak disebabkan virus Hog Colera. Berdasarkan pemeriksaan 12 sampel dilakukan Balai Veteriner Regional I Medan, tiga sampel dinyatakan positif Hog Colera. Sedangkan 9 sampel masih dalam proses pemeriksaan lanjutan sebagai suspect African Swine Fever (ASF).
Namun sampai saat ini, hasil pemeriksaan 9 sampel itu belum ada dan masih menunggu hasil dari Kementerian Pertanian melalui Dirjen Peternakan.
Ternak babi yang terserang virus pertama kali diketahui paling banyak terjadi di Kecamatan Sidikalang. Penyebaran virus bersumber dari ternak babi yang masuk melalui transaksi jual beli ternak babi dari luar Dairi. Pasalnya virus ini juga telah menyerang ternak babi di wilayah Medan, Deli Serdang, Humbahas, Tobasa, Samosir serta Tapanuli Utara.
Untuk pencegahan dan penanggulangan, tim telah melakukan tindakan preventif yakni melaksanakan peningkatan biosekuriti, pencegahan dengan desinfeksi kandang dan vaksinasi.
Kemudian, melakukan pengambilan sampel darah dan organ, untuk pemeriksaan laboratorium di Balai Veteriner Medan. Membuat imbauan kepada masyarakat melalui surat edaran kepada camat se-Dairi dan diteruskan kepada lurah dan kepala desa.
Herlina menyampaikan, berdasarkan laporan PPL, akibat serangan penyakit itu, jumlah ternak babi yang mati hingga 17 Oktober 2019 sudah mencapai 1.004 ekor dengan nilai kerugian ditaksir Rp 500 juta. Untuk menekan dan meminimalisir perkembangan dan penyebaran wabah penyakit itu, masyarakat diimbau tidak sembarangan membuang bangkai ternak ke aliran sungai maupun tempat terbuka.
Saat ditanya terkait konpensasi kepada peternak yang mengalami kerugian akibat ternak babi mereka mati, Posma dan Herlina mengatakan belum ada. Namun, Pemkab Dairi masih mengkaji apakah kejadian ini bisa dijadikan tanggap darurat karena serangan penyakit itu sudah mewabah.
Yang jelas Pemkab Dairi berupaya mengatasi permasalahan yang menimpa peternak babi. Disebutkan, Bupati Dairi bertolak ke Jakarta untuk menemui Menteri Pertanian supaya pemerintah pusat memberikan atensi terhadap musibah yang dialami peternak babi di Dairi.
Lanjutnya, penyakit yang menyerang ternak babi merupakan penyakit yang tidak zoonosis (tidak dapat menular pada manusia).
Disebutkan, peternak yang tidak memiliki lahan untuk mengubur bangkai babi, juga dapat melaporkan ke Pemda melalui Dinas Lingkungan Hidup. "Dinas Lingkungan Hidup menyediakan lokasi penanaman bangkai babi, bagi peternak tidak punya lahan," pungkas Posmatua.(t/s1)













.jpg)








